Whatsapp adalah platform perpesanan paling populer yang digunakan oleh miliaran orang di seluruh dunia. Whatsapp menjadi sangat populer karena fiturnya yang menarik diantaranya layanan perpesanan lintas platform, berbagi media online, layanan pesan gratis, panggilan suara dan sebagainya. Sebagian besar pengguna smartphone baik itu iPhone, BlackBerry, Android, Windows Phone, dan Nokia banyak yang tertarik menggunakan WA ini karena menyediakan fitur-fitur inovatif dan luar biasa serta keamanan yang terjaga.
Namun keamanan WhatsApp sempat diragukan begitu Facebook sebagai pemilik malah mengalami kebobolan data jutaan pengggunanya belum lama ini. Meski begitu WhatsApp menyatakan apabila privasi dan keamanan yang diberikannya adalah prioritas utama perusahaan. Aplikasi ini sekarang menawarkan lebih dari satu miliar pengguna setiap bulan yang mengirim lebih dari 30 miliar pesan per hari. WhatsApp telah memperkuat sistem keamanan mereka dalam beberapa tahun terakhir dengan menambahkan verifikasi dua langkah, dan enkripsi end-to-end otomatis. Meskipun demikian bukan berarti ancaman keamanan menjadi tak ada sama sekali.
Dengan lebih dari satu miliar pengguna, hampir pasti para penjahat dunia maya akan mengeksploitasi aplikasi perpesanan terpopuler yang satu ini. Ketika WhatsApp mengumumkan peluncuran antarmuka web dan aplikasi desktop pada bulan Januari 2015 para peretas dengan cepat memanfaatkannya dengan membuat situs web dan aplikasi WhatsApp palsu untuk mencuri data dan menyebarkan malware. Beberapa penyerang menciptakan unduhan perangkat lunak berbahaya yang akan menyamar sebagai aplikasi Desktop WhatsApp. Setelah diinstal, program tersebut dapat menginstal dan mendistribusikan malware ke komputer. Masih banyak modus lain penyadapan WhatsApp untuk tujuan kejahatan. Seperti yang dialami Thamzil Tahir.
Thamzil Tahir adalah penduduk kota Makassar Sulawesi Selatan yang menjadi korban kloning aplikasi WhatsApp di ponsel. Menurut pengakuannya, nomor seluler yang terkait dengan akun WA-nya dikloning seseorang yang kemudian digunakan untuk menipu. Si penipu tersebut melakukan chat dengan beberapa kontak teman WA Thamzil kemudian ujung-ujungnya ingin meminjam uang. Muslihat yang digunakan pelaku yaitu mengambil nomor kontak WhatsApp milik Thamzil dari jejaring sosial. Penipu tersebut seakan-akan adalah teman di jejaring sosial Twitter, Facebook, dan IG. Kemudian pelaku meminta nomor kontak WA melalui inbox. Begitu memperoleh nomor WA milik Thamzil, kemudian pelaku mengirimkan kode notifikasi ke nomor WhatsApp tadi yang bila diklik maka nomor WA lama akan diganti nomor WA baru milik pelaku.
Mengapa orang lain dapat menggandakan nomor Whatsapp kita? Penjelasannya cukup sederhana. Coba masuk ke menu Setting di aplikasi WhatsApp, di sana ada fitur ganti nomor ponsel. Apabila orang lain hendak mengganti nomor ponsel dengan daftar kontak dan grup tetap sama, untuk itu inputkan saja nomor ponsel lama dan nomor ponsel baru. Sesudah itu akan terkirim notifikasi ke nomor ponsel lama. Apabila kita menekan kode notifikasi yang masuk ke nomor lama itu, akibatnya akun WA kita akan menggunakan nomor ponsel baru milik pelaku.
Seluruh daftar kontak dan grup langsung menempel ke nomor WhatsApp baru itu. Seperti kasus Thamzil, nomor seluler yang tercantum di chat sudah menggunakan nomor ponsel baru milik penipu. Keteledoran dari pak Thamzil ini yaitu menekan kode notifikasi yang diterimanya sebagai konfirmasi bahwa ia setuju mengganti nomor WA dengan yang baru (milik penipu). Oleh sebab itu bagi para pengguna WA yang lain untuk selalu berhati-hati ketika mendapatkan notifikasi di WA, jangan asal klik saja sebelum dibaca dengan teliti.